Masih amat banyak para pemuda yang jatuh dalam pergaulan yang salah, senang dengan tindakan brutal dan kekerasan, ugal-ugalan, hura-hura dan bahkan kemaksiatan seperti, minum minuman keras, pergaulan bebas dan sebagainya. Termasuk tingkat yang mengkhawatirkan adalah meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang telah baligh, seperti shalat dan puasa Ramadhan. Alasannya sangat sederhana, yakni memang begitulah seharusnya seorang pemuda itu, kalau tidak demikian namanya bukan anak muda.
Kita semuanya tanpa kecuali pasti menyadari, bahwa masing-masing kita mempunyai kesalahan dan pernah berdosa, terlupa serta khilaf. Hanya saja orang yang mendapatkan taufiq dan mau menyadari kekeliruannya pasti akan bersegera untuk bertaubat dan minta ampun kepada Alloh Subahanahu wa Ta’ala. Menyesali perbuatan itu dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi-nya, sebagaimana difirmankan Alloh Subahanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (QS: Ali ‘Imron: 135-136)
Betapa Maha Besarnya Alloh Subahanahu wa Ta’ala; Seseorang telah melakukan tindak kekejian, menganiaya diri sendiri, kemudian mau bertaubat, menyesal, minta ampunan dan meninggalkan kemaksiatan itu lalu Alloh Subahanahu wa Ta’ala mengampuni dan memberikan untuknya kenikmatan abadi di Surga. Mengalir di bawahnya sungai-sungai, disediakan buah-buahan ranum tak kenal musim, keteduhan dan kedamaian, bidadari yang jelita dan memandang wajah Alloh Subahanahu wa Ta’ala Yang Agung lagi Mulia yang merupakan nikmat paling besar bagi penduduk Surga.
Dasar Kekeliruan
Berbagai tindakan menyimpang yang dilakukan para pemuda ternyata memiliki muara yang boleh dikatakan sama, yaitu kekeliruan dalam memahami dan menyikapi masa muda. Hampir sebagian besar pemuda memiliki persangkaan dan persepsi, bahwa masa muda adalah masa berkelana, hura-hura, bersenang-senang, main-main, berfoya-foya dan mengabiskan waktu untuk bersuka ria semaunya.
Untuk menimbang dan memandang dari sudut syar’i dikatakan belum waktunya dan bukan trendnya. Padahal kenyataannya syari’at berbicara lain, yaitu masa muda adalah masa dimulainya seseorang untuk memikul suatu beban tanggung jawab sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi, bahwa ada tiga golongan yang pena diangkat (tidak ditulis dosanya) yang salah satunya adalah seorang anak hingga ia dewasa (menjadi pemuda). Maka bagaimanakah seorang pemuda muslim yang ketika itu catatan keburukan sudah mulai ditulis malah justru memperbanyak keburukannya?
Yang sebenarnya adalah, masa muda merupakan masa dimulainya seseorang memulai menumpuk dan memperbanyak amal kebajikan, masa menghitung dan introspeksi diri, masa penuh semangat dan jiwa membara untuk membangun dan beramal sebanyak-banyaknya. Masa di mana segenap kemampuan dan tenaga dicurahkan serta masa yang penuh dengan kesempatan emas untuk melakukan berbagai ketaatan dan kebaikan.
Bentuk-Bentuk Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemuda, antara lain:
Meremehkan Kewajiban
Terlalu Menuruti Hawa Nafsu
Menyia-Nyiakan Waktu/Umur
Mabuk-Mabukan dan Mengkonsumsi Narkoba
Merokok
Kebiasaan Rahasia (Onani)
Suka Meniru Trend Orang Kafir (Tasyabbuh)
Hobi Mengumbar Lisan
Durhaka Kepada Kedua Orang Tua
Bangga dengan Perbuatan Dosa
Tidak mensyukuri nikmat Allah dan menyia-nyiakannya.
Mengganggu dan menyakiti orang lain, tidak menghormati yang tua.
Memutuskan hubungan silatur rahim.
Suka mengikuti program obrolan dengan lawan jenis via telepon.
Menunda taubat dan panjang angan-angan.
Terlalu banyak tertawa dan bercanda
Bergaul dengan teman yang buruk perangai.
Tidak perhatian dengan urusan-urusan kaum muslimin.
dsb
(Sumber Rujukan: “Min Akhtha’ Asy Syabab” Qism Al-Ilmi Darul Wathan Riyadh)
Ditulis dalam Al-Manhaj, Islam, Islamic Links, Jalan Keselamatan, Manhaj, Manhaj Islam, Manhaj Muslim, Metode Islam, Mukmin, Muslim, Tarekat, Ta’ashub, cinta, life, love, religion, religius, www.mediamuslim.info.
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
14 February 2009
11 February 2009
Valentine?...
Ini Artikel buat umat islam.
Sumber : http://duwex.wordpress.com/2008/02/08/hukum-merayakan-hari-valentine-buat-umat-islam/
Hukum Merayakan Hari Valentine buat Umat Islam
Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.
Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.
Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.
Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sumber : http://duwex.wordpress.com/2008/02/08/hukum-merayakan-hari-valentine-buat-umat-islam/
Hukum Merayakan Hari Valentine buat Umat Islam
Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.
Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.
Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.
Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
08 February 2009
Pergaulan remaja yang bebas
Penyimpangan dan masalah seksual, khusus di kalangan remaja semakin membimbangkan. Pergeseran kefahaman seperti dosa masing-masing tanggung, kubur masing-masing jaga, membuatkan masalah dosa dan zina sesuatu yang mula dipandang remeh.
Penyimpangan seks, iaitu zina sesuatu yang amat keji dan mesti dihindari setiap Muslim sebagaimana firman Allah yang bermaksud: "...dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu perbuatan yang sangat keji dan satu jalan yang sangat buruk."
Seks adalah satu anugerah Allah yang diberikan kepada manusia sebagai satu nikmat dan perhiasan kehidupan seperti juga binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Memang patut kalau manusia ghairah seks atau berasa hendak melampiaskan keinginan seksual itu. Allah tidak melarang manusia melampiaskan hawa nafsunya selama mana cara yang dihalalkan, pada saat yang tidak terlarang dengan ikatan perkahwinan yang sah.
Nabi s.a.w seakan tidak mengaku umat terhadap mereka yang mempunyai kemampuan untuk berkahwin tetapi meninggalkannya.
Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya berbunyi: "Sesiapa benci dan enggan menurut sunnahku (antaranya berkahwin), maka dia bukan dari kalanganku."
Ikatan pernikahan adalah jalan yang halal dan diiktiraf syarak untuk melepaskan kemahuan seks. Ini bererti orang yang belum berkahwin jangan cuba-cuba melepaskan seksnya.
Sebagai satu agama yang amat hebat, Islam menampilkan cara pengawalan yang sangat berkesan dalam mengatasi penyakit seksual, iaitu sebagaimana dalam firman Allah yang kita baca di atas, perkataan 'jangan kamu hampiri zina.' Kalau hampiri sudah dilarang dan ditegah, apatah lagi melakukannya.
Menghampiri bermakna apa saja perbuatan yang menjadi penyebab, pendorong, keinginan dan sebagainya, adalah haram. Kalau ada pendorong mudah datang keinginan diulit bisikan syaitan sama merelakan pula, terjadilah perbuatan terkutuk yang saban hari kita lihat dan dengar iaitu remaja melahirkan anak luar nikah.
Bayi yang tidak berdosa ditemui mati di timbunan sampah, dengan perut terburai dimakan sekumpulan anjing liar. Sudahlah berzina, amat jijik pula kezaliman terhadap bayi yang tidak tahu apa-apa.
Oleh itu, pergaulan bebas, berdua-duaan, berpimpin tangan, rapat-merapati dan berhimpit di atas motosikal adalah faktor permulaan yang kuat mendorong ke arah penyimpangan seksual.
Alam remaja adalah alam yang sangat mencabar sehingga disebut nabi dalam satu senarai orang kenamaan akhirat adalah remaja yang terselamat dan menyelamatkan diri daripada zina.
Maksud hadis: "Lelaki yang apabila diajak perempuan cantik berzina lalu berkata, "sesungguhnya aku takut kepada Allah."
Pendidikan seks menurut Barat amat berbeza dengan Islam, agama yang sangat suci ini. Masyarakat remaja Barat yang sangat bebas serta serba tidak terkawal itu hanya mengajar bagaimana mencegah supaya jangan berlaku kehamilan. Seks adalah hak peribadi yang tidak terlarang bagi mereka.
Bagi mereka hamil di kalangan remaja berlaku kerana remaja tidak tahu mengenai seks selamat, bukannya hendak berfikir mengenai salahnya berzina itu.
Pendidikan seks dalam Islam mendidik remaja bukan saja supaya tidak berzina tetapi juga supaya menjauhi sebab dan segala pendorong perzinaan.
Sebab itu mendidik mengenai syurga neraka supaya umat Islam gerun terhadap ancaman neraka dan akhirnya menolak nikmat sementara supaya terselamat api neraka yang membakar selamanya.
Langkah pencegahan menurut Islam ialah:
# Jaga pandangan mata dengan tidak melihat aurat jantina berlainan termasuk gambar serta filem pornografi.
# Tidak berdua-duaan lelaki dan wanita yang bukan mahram di tempat sunyi.
# Tidak bersentuhan kulit antara lelaki wanita termasuk bersalaman.
# Tidak bergaul bebas lelaki wanita tanpa batas.
SUMBER : http://serikasih.blogspot.com/2009/01/pergaulan-bebas-remaja.html
Penyimpangan seks, iaitu zina sesuatu yang amat keji dan mesti dihindari setiap Muslim sebagaimana firman Allah yang bermaksud: "...dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu perbuatan yang sangat keji dan satu jalan yang sangat buruk."
Seks adalah satu anugerah Allah yang diberikan kepada manusia sebagai satu nikmat dan perhiasan kehidupan seperti juga binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Memang patut kalau manusia ghairah seks atau berasa hendak melampiaskan keinginan seksual itu. Allah tidak melarang manusia melampiaskan hawa nafsunya selama mana cara yang dihalalkan, pada saat yang tidak terlarang dengan ikatan perkahwinan yang sah.
Nabi s.a.w seakan tidak mengaku umat terhadap mereka yang mempunyai kemampuan untuk berkahwin tetapi meninggalkannya.
Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya berbunyi: "Sesiapa benci dan enggan menurut sunnahku (antaranya berkahwin), maka dia bukan dari kalanganku."
Ikatan pernikahan adalah jalan yang halal dan diiktiraf syarak untuk melepaskan kemahuan seks. Ini bererti orang yang belum berkahwin jangan cuba-cuba melepaskan seksnya.
Sebagai satu agama yang amat hebat, Islam menampilkan cara pengawalan yang sangat berkesan dalam mengatasi penyakit seksual, iaitu sebagaimana dalam firman Allah yang kita baca di atas, perkataan 'jangan kamu hampiri zina.' Kalau hampiri sudah dilarang dan ditegah, apatah lagi melakukannya.
Menghampiri bermakna apa saja perbuatan yang menjadi penyebab, pendorong, keinginan dan sebagainya, adalah haram. Kalau ada pendorong mudah datang keinginan diulit bisikan syaitan sama merelakan pula, terjadilah perbuatan terkutuk yang saban hari kita lihat dan dengar iaitu remaja melahirkan anak luar nikah.
Bayi yang tidak berdosa ditemui mati di timbunan sampah, dengan perut terburai dimakan sekumpulan anjing liar. Sudahlah berzina, amat jijik pula kezaliman terhadap bayi yang tidak tahu apa-apa.
Oleh itu, pergaulan bebas, berdua-duaan, berpimpin tangan, rapat-merapati dan berhimpit di atas motosikal adalah faktor permulaan yang kuat mendorong ke arah penyimpangan seksual.
Alam remaja adalah alam yang sangat mencabar sehingga disebut nabi dalam satu senarai orang kenamaan akhirat adalah remaja yang terselamat dan menyelamatkan diri daripada zina.
Maksud hadis: "Lelaki yang apabila diajak perempuan cantik berzina lalu berkata, "sesungguhnya aku takut kepada Allah."
Pendidikan seks menurut Barat amat berbeza dengan Islam, agama yang sangat suci ini. Masyarakat remaja Barat yang sangat bebas serta serba tidak terkawal itu hanya mengajar bagaimana mencegah supaya jangan berlaku kehamilan. Seks adalah hak peribadi yang tidak terlarang bagi mereka.
Bagi mereka hamil di kalangan remaja berlaku kerana remaja tidak tahu mengenai seks selamat, bukannya hendak berfikir mengenai salahnya berzina itu.
Pendidikan seks dalam Islam mendidik remaja bukan saja supaya tidak berzina tetapi juga supaya menjauhi sebab dan segala pendorong perzinaan.
Sebab itu mendidik mengenai syurga neraka supaya umat Islam gerun terhadap ancaman neraka dan akhirnya menolak nikmat sementara supaya terselamat api neraka yang membakar selamanya.
Langkah pencegahan menurut Islam ialah:
# Jaga pandangan mata dengan tidak melihat aurat jantina berlainan termasuk gambar serta filem pornografi.
# Tidak berdua-duaan lelaki dan wanita yang bukan mahram di tempat sunyi.
# Tidak bersentuhan kulit antara lelaki wanita termasuk bersalaman.
# Tidak bergaul bebas lelaki wanita tanpa batas.
SUMBER : http://serikasih.blogspot.com/2009/01/pergaulan-bebas-remaja.html
Subscribe to:
Posts (Atom)