Showing posts with label Tokoh Sufi Nasrudin. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Sufi Nasrudin. Show all posts

21 January 2009

Mimpi Terindah

Nasruddin mengenakan jubah sufinya dan memutuskan untuk melakukan sebuah pengembaraan suci. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang yogi dan seorang pendeta.

Mereka bertiga sepakat membentuk tim. Ketika sampai di sebuah perkampungan, kedua teman seperjalanan meminta Nasruddin untuk mencari dana, sementara mereka berdua berdakwah. Nasruddin berhasil mengumpulkan uang yang kemudian dibelanjakannya untuk halwa.

Nasruddin menyarankan agar makanan itu segera dibagi, tapi yang lain merasa belum terlalu lapar sehingga diputuskan untuk membaginya pada malam harinya saja.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Dan ketika malam tiba, Nasruddin langsung meminta porsinya "karena akulah alat untuk memperoleh makanan itu."

Sementara itu, yang lain tidak setuju. Sang pendeta mengajukan alasan. Karena bentuk tubuhnya yang paling bagus, maka pantaslah kalau ia yang makan lebih dulu.

Sang yogi juga menyampaikan keadaan dirinya bahwa ia hanya makan sekali dalam tiga hari terakhir ini. Karenanya harus mendapat bagian yang lebih banyak.

Akhirnya mereka putuskan untuk tidur dengan sebuah janji bahwa yang malamnya bermimpi paling bagus, boleh makan halwa lebih dulu. Begitu bangun, sang pendeta bilang: "Dalam mimpi aku melihat pendiri agamaku membuat tanda salib. Itu berarti aku telah memperoleh berkah istimewa."

Yang lain merasa amat terkesan, tapi kemudian sang yogi menyambung: "Aku mimpi pergi ke Nirwana, tapi tidak menemukan apa-apa."Sekarang giliran Nasruddin.

"Aku mimpi bertemu seorang guru Sufi, Nabi Khidir, yang hanya muncul di depan orang yang paling suci. Ia berkata: 'Nasruddin, makanlah halwa itu sekarang juga!' Dan, tentu saja, aku harus mematuhinya."



19 January 2009

Tampak seperti Wujudmu

Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.

"Oh kasih yang agung.
Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.
Segala yang tampak oleh mataku.
Tampak seperti wujud-Mu."

Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"

Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:
"Tampak seperti wujudmu."


Belajar Kebijaksanaan

Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. "Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sonya.

"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasrudin.

"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si darwis, "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."

Ah, konsistensi.


Nasrudin Miskin Dan Sepi

Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.

Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.

"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.

"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."

Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"

"Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."



17 January 2009

Kisah Nasrudin

Konon, Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di Anatolia, Turkey pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Beliau terkenal sebagai orang berilmu tinggi, cerdas, arif dan kecerdikannya tak tertandingi. Penampilan Nasrudin sangat sederhana dan bahkan cenderung "nyleneh". Karena ketinggian ilmunya Nasrudin dipanggil Mullah (sepadan dengan Kyai). Nasrudin turut mengalami pendudukan Bangsa Mongol di bawah panglima Timur Lenk yang kejam (Timur Lenk adalah panglima perang Mongol ketika Otoman dikalahkan bangsa Mongol). Timur Lenk banyak sekali melakukan penghancuran kebudayaan, tetapi dengan berbagai kecerdikan, Nasrudin dapat melewati masa ini. Konon, antara lain berkat pengaruh Nasrudin pula lah akhirnya Timur Lenk meninggalkan tanah air Nasrudin, meneruskan pengembaraan barbarnya.
Dalam kisah Nasrudin ini banyak diajarakan kearifan. Kisah Nasrudin ini diwariskan turun temurun sehingga tidak jelas siapa pengarangya. Dalam buletin ini akan dimuat kisah Nasrudin secara berseri.


16 January 2009

Tampang Itu Perlu

Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.

"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nasrudin.

"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.

Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."

Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah."

Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin."

Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.

Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim.

"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nasrudin.

"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nasrudin.

"Apa buktinya?" tanya hakim.

"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."

Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"

Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.


Malu karna miskin

Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi.

"Aha!" kata si pencuri, "Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?"

"Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.""


Nasrudin Memanah

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu."

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir memanah."

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah."

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja."

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.


Nasrudin Pemungut Pajak


Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan.

Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.

Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak.

Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?” bentak Timur Lenk. “Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.

“Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?” Timur Lenk lebih marah lagi. Nasrudin menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini.

Sumber: klik sumber


Pemikiran Nasrudin Yang sederhana

Suatu ketika, Nasrudin meminjam kuali kepada tetangganya. Besoknya, ia mengembalikan kuali itu, dengan ada tambahan kuali kecil di dalamnya. Lho, kata tetangga Nasrudin, kok ada kuali kecil? Kata Nasrudin, semalam kualinya beranak. Walau tetangganya menganggap Nasrudin sudah gila atau dungu, ia senang atas kuali tambahan itu. Ketika esoknya Nasrudin meminjam kembali kuali yang dulu ia pinjam, si tetangga meminjami dengan sukacita dan berharap kualinya “beranak” lagi. Sehari, dua hari, berhari-hari Nasrudin tak mengembalikan kuali itu. Akhirnya, si tetangga menagih. Oh, kata Nasrudin, kuali itu sudah meninggal. Tentu saja si tetangga marah besar. Mana ada kuali meninggal, kuali kan benda mati? Lho, kata Nasrudin, kemarin kamu percaya waktu saya bilang kualinya beranak?

Ada banyak cerita semacam ini yang dinisbatkan kepada tokoh Nasrudin Hoja. Rata-rata berkisah tentang anekdot perilaku Nasrudin yang pada mulanya atau secara sekilas kita anggap dungu. Tapi di balik kedunguan atau keluguan itu, tersirat sebuah pelajaran berpikir yang tajam Itulah mengapa menurut sahibul hikayat, Nasrudin jadi favorit Khalifah Harun Al-Rasyid.

Di Indonesia, kita mengenal kisah serupa –misalnya, kisah si Kebayan. Intinya, tokoh macam Nasrudin atau Kebayan menantang cara pikir “normal” dengan perilaku “bodoh”, dan pada akhirnya mengajak kita kembali ke akal sehat atau pikiran lebih rasional. Kesan “bodoh” timbul karena para tokoh nyentrik itu menyederhanakan sesuatu hal sehingga tampak aneh dan di luar kebiasaan.

Ternyata, dalam tradisi keilmuan, ada prinsip serupa: prinsip silet Ocham. Prinsip ini dianggap sangat tajam dalam menguji pemikiran-pemikiran nonrasional, sehingga disebut sebagai “silet”. Prinsip itu kurang lebih mengatakan: di tengah berbagai penjelasan rumit, penjelasan paling sederhana adalah yang paling masuk akal. Dengan prinsip ini, sains berusaha menghidupkan akal sehat dan bukan akal jelimet.

Prinsip ini tumbuh di Eropa, pada masa renaissance. Di hadapan banyaknya penjelasan takhyul yang jelimet, berputar-putar, sains memotong dengan silet Ocham ini. Misalnya, menjelaskan kekuasaan raja berasal dari mana? Dari Tuhan, kata raja. Bagaimana caranya? Apa Tuhan memberi wahyu? Mana buktinya? Apa Tuhan memberikan kekuasaan turun-temurun? Atas dasar apa Tuhan memilih seseorang jadi raja, dan bukan lainnya? Dan seterusnya. Jawaban-jawaban raja terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut pastilah jawaban-jawaban jelimet, dicari-cari. Utak-atik-gatuk, kata orang Jawa. Dicocok-cocokkan. Bukankah lebih sederhana bahwa kekuasaan seorang raja didapat karena kesepakatan sosial?

Tapi, berpikir sederhana juga sering disalahgunakan. Ketemu maling, bakar saja! Ketemu orang berpikiran beda, gebuk saja. Ketemu orang yang mengganggu, singkirkan saja. Berpikir sederhana berubah menjadi berpikir gampangan, cari-cari jalan pintas. Begitu juga dalam berbisnis. Misalnya, bisnis hiburan. Apa yang gampang menarik perhatian? Apa yang gampang dijual? Seks. Ya, sudah, jual saja seks. Kalau perlu, jual saja pornografi. Tak usah pikir-pikir soal akibatnya pada anak-anak, atau masa depan bangsa. Nah, pikiran-pikiran kayak begini adalah sederhana juga, tapi bersifat menyalahgunakan. Ini berbahaya.

Jadi, apa sih bedanya pikiran-pikiran cari gampang itu dengan cara pikir Nasrudin Hoja dan Kebayan tadi? Nasrudin yang sufi dan Kebayan yang waskita sebetulnya berpikir sederhana sambil memahami kerumitan masalah. Mereka itu berpikir sederhana bukan karena tak ingin pusing, tapi justru karena mampu melihat kerumitan masalah itu dengan terang benderang. Kemudian, mereka mampu merumuskan kerumitan itu dengan sederhana. Mereka mampu memberi solusi yang paling mudah dan jitu, bukan sekadar cari jalan pintas. Bukan juga sekadar mengikuti hawa nafsu, atau mengumbar angkara.

Artinya, ternyata, berpikir sederhana itu butuh latihan dan disiplin juga. Disiplin untuk menjernihkan pikiran, dan hati.***

Sumber: klik sumber


Nasrudin Belajar Musik

Pada suatu hari Nasrudin mendengar ada seorang muda yang bia bermain musik dengan amat bagus. Ia pun tertarik untuk belajar musik. Keesokan harinya, ia pergi ke kota dan menemui guru musik kenamaan. ”Tuan, saya ingin belajar musik, berapa bayarannya?” Guru itu sejenak melihat wajahnya, sebelum akhirnya menjawab,”Murid-muridku membayar tiga dirham untuk bulan pertama, dan kemudian untuk tiap bulan berikutnya membayar satu dirham. Nasrudin berpikir sejenak dan kemudian berkata, ”Baiklah,” katanya, ”Saya akan mulai kursus pada bulan kedua saja.”


Nasrudin dan Tiga Orang Bijak

Category: Humor Sufi

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.
Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, ”Di mana sebenarnya pusat bumi ini?”


Nasrudin menjawab, ”Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara.”
”Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?” tanya orang bijak pertama tadi.
”Kalau tidak percaya,” jawab Nasrudin, ”Ukur saja sendiri.”
Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.
Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. ”Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?”
Nasrudin menjawab, ”Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini.”

”Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?”
Nasrudin menjawab, ”Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.”
”Itu sih bicara goblok-goblokan,” tanya orang bijak kedua, ”Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.”
Nasrudin pun menjawab, ”Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?”
Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.
Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya, ”Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.” ”Saya tahu jumlahnya,” jawab Nasrudin, ”Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara.”
”Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanyanya lagi. ”Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.”
Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut. (dari buku humor sufi II terbitan Pustaka Firdaus)